Terkadang Indah

Malam semakin larut, aku belum beranjak dari kursi teras kamarku. Aku masih ingin melihat bulan dan bintang di atas sana. Disini memang tempat yang sangat tepat untuk melihat keindahan malam hari. Aku berpikir, apakah aku akan mampu melewati semua ini? Aku membutuhkan kasih sayang itu. Sering kali aku iri kepada teman-temanku yang telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sedangkan aku? Aku sendiri tak tahu apa yang aku cari. Kini, orang-orang yang aku sayangi satu persatu pergi dari hidupku. Ayah dan Bunda entah dimana, aku hanya hidup bersama Oom dan Tanteku yang lebih mementingkan kepentingan mereka. Dan sesorang yang ku kira akan ada untukku selamanya,ternyata….sejak ia pindah ke sekolah di Jakarta,ada orang lain yang dapat lebih membuatnya jatuh hati dan dapat selalu ada untuknya di sana, bukan lagi aku.

Huffh……Aku menghelakan nafas panjang. Angin malam yang dingin menusuk ke dalam tulangku. Lelah rasanya membayangkan hidupku ini. Ku putuskan untuk masuk ke kamar dan segera tidur. Sebelum mata ini tertutup, ku berdoa semoga esok ku dapatkan kebahagiaan.
Hari pertama aku masuk kuliah,setelah melewati ospek yang melelahkan. Aku masuki ruang kelasku dan duduk di salah satu bangku sebelah bangku sahabatku yang selalu bersama denganku sejak SMP. Dilla namanya.
“Hai,Dilla…Apa kabar? Baik kan??” Sapaku.
“Ya…beginilah…Kayaknya sih baik-baik aja..”
Satu jam..Dua jam…..Dan waktu terus berlalu. Entah terasa sangat singkat…. Dan kuliahpun berakhir. Aku beranjak menuju parkiran mendahului Dilla. Sesaat sebelum aku menaiki motor kesayanganku, seseorang mendatangiku.
“Hai? Kamu Nia kan?” Sapanya.
“I..i..iya…kamu…?Siapa ya?” Tanyaku kaget bercampur heran.
“O..o…oh..i..i..ya..Aku tau kamu….darii..??Dilla..Ya..Dari Dilla.Dia ngasih tau ke aku kalo kamu namanya Nia.” Jawabnya.
“Oooh…kita sekelas?”
“Iya…Oia,namaku Damar. Ummm….Kamu udah mau pulang ya?”Tanyanya sambil menjabat tanganku.
“Eh,iya..aku udah mau pulang.”
“Ooh…hati-hati ya?”
“Ya…aku duluan ya?” Kataku sambil menaiki motor kesayangku.
“Sampai ketemu besok”

Itulah awal perkenalanku dengan Damar. Dan sampai saat ini,aku, Damar dan Dilla selalu pergi bareng. Entah mengapa hatiku sangat senang. Masalah-masalahku semuanya sementara dapat kulupa. Aku dapat mengembangkan senyumku lagi saat itu. Berada di antara sahabat-sahabatku buatku bahagia. Dilla pun merasakan perubahan yang terjadi padaku itu. “masa’ sih? Ya syukur deh kalo gitu.” Hanya itu yang dapat ku katakan saat Dilla menanyakan padaku tentang perubahan sikapku yang sudah mulai dapat pulih kembali dan dapat kembali ceria.Malam hari setelah ku selesai mengerjakn tugas, aku kembali menatap langit seperti biasa. Namun kali ini,semua itu terlihat indah dan sangaaat indah. Aku bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah Dia berikan padaku.

Suatu hari, aku berangkat ke kampus dengan perasaan tak karuan. Firasat tak enak menghujam jantungku,hatiku serasa ditusuk dan rasanya sakiiit sekali. Aku mendatangi Dilla dan memeluknya erat-erat. Aku sungguh tak bisa menahan perasaan ini,yang aku sendiri tak tahu kenapa dan ada apa? Pelukanku semakin kencang dan tiba-tiba aku menagis sekencang-kencangnya dipelukan Dilla. Aku tak peduli teman-teman yang memperhatikan aku. Aku merasa lelah dan sangat lelah. Dan tak kuduga,aku jatuh pingsan. Akupun tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Saat ku buka mataku,aku menemui diriku tertidur di kasur ruang kesehatan kampus dan di sebelahku,duduk Damar dan dia tersenyum padaku sambil memegang tanganku.
“Dilla mana,Mar?” Tanyaku.
“Tadi katanya mau beli makanan buat kamu. Kamu sendiri kenapa pingsan? Perasaan kamu ngga pernah pingsan dan kamu ngga pernah cerita apapun tentang ini?” Ujarnya dengan wajah khawatir. Tapi aku hanya dapat menggeleng,karena akupun tak tahu apa yang terjadi. aku terdiam dan hanya dapat menatap wajah Damar. Entah mengapa, saat aku bersamanya aku merasa seperti menemukan sesuatu yang hilang.Aku bisa tertawa selepas-lepasnya,aku bisa ngomong sebebas-bebasnya,dan aku bisa cerita banyak dengannya. Aku bahgia,tenang dan nyaman di dekatnya. “Oh,Tuhan….apakah aku menyayanginya?Kenapa jantungku berdegup kencang?” Batinku.

Dengan sangat terpaksa,aku harus meminjam catatan Dilla. Malam ini,damar datang ke rumahku untuk mengantarkan buku catatan yang Dilla titipkan padanya untuk ku pinjam. Saat aku menyalin catatan itu, Damar bercerita padaku dengan wajah berbinar. “Nia,kamu tau ngga? Tadi pagi aku ketemu Rita, kamu belum ku kasih tahu kan??Aku kan udah lama ini suka sama dia. Tadi tuh moment yang tepat banget buat aku nyatain persaanku ke dia. Ya,ku tembak aja dia. Aku ngga nyangka,dia mau terima aku. Tapi kenapa aku ragu ya sama jawaban dia. Aku takut dia terima aku karena kasian doank.”
“Tuhan…Kenapa ini?Kenapa dadaku terasa sesak?Tuhan..Kuatkan aku…!Tuhan aku mohon jangan sekarang…Tuhan..tolong aku….”Batinku,sambil memegangi dadaku yang semakin lama terasa sesak dan sakit. Tertiba semua gelap.

Entah berapa lama aku pingsan.Saat kubuka mata, aku telah ada di dalam kamarku bersama Damar. Dia duduk di kursi sebelah tempat tidurku,sambil menggenggem telapak tanganku. Ku lihat jam di dinding,sudah jam 11 malam rupanya.
“Damar…Kamu pulang aja,udah malem banget. Ntar kamu dimarahin ortumu,gimana? Aku juga rasanya capek banget.” Ujarku ketus padanya.
“Aku udah bilang ortu kalo aku lagi di rumahmu dan lagi nungguin kamu. ya udah lah, aku pulang dulu. kamu udah ngga papa kan?”
“Aku ngga papa kok,Mar. Ada Bunda yang jagain aku.Kasian kamu,aku cuma kayak gini aja kok.”
“Ya udah,aku pulang. Met malem…Met istirahat…mimpi indah ya?” Ujarnya,lalu mencium keningku.

Setelah Damar keluar dari kamarku,aku melihat dari jendela kamarku ke arah gerbang depan, ku lihat Damar bergegas pulang dengan motornya. Ku kembali ke tempat tidur dan ku ambil buku diary kesayanganku di meja sebelah tempat tidurku.
“Dear diaryku….
Entah kenapa kini aku merasa diriku semakin lemah setelah aku mulai kembali tegar. Aku ngga pernah rasain hal ini sebelumnya. Tapi kenapa?? Dalam waktu yang singkat ini aku mengenal dia. Apa sekarang ini aku menyayanginya?Mencintainya? Kenapa aku mesti sakit dan terjatuh ketika aku bisa bangkit lagi? Andai dia tahu….aku dapat tersenyum dan tertawa lepas lagi karena dia. Andai dia tahu… Sejak pertama bertemu dan perkenalan itu….aku merasa telah mengenalnya,jauuuh sebelum kita berkenalan. Entah siapa dia…Diary… Aku sakit…Aku semakin lemah dan rapuh,setelah aku merasa ada yang hilang di hatiku…. Damar…. Ya…dia Damar.Kenapa Dmar menyayangi orang lain?ku mencoba melupakan rasa itu… Namun hatiku kosong dan sakiit….
Bulan dan Bintang di langit…
Apakah kalian dapat mendengar hatiku?
Apakah kalian dapat melihat kepedihan dihatiku ini?
Ku ingin terbang ke sana…
Menemani kalian menerangi gelapnya malam dingin dan sepi
Sesepi hatiku kini….
Ku ingin ke sana bersama keindahan dan kebahagiaan
_Nia_”
Kututup buku diaryku,ku helakan nafas panjang-panjang dan mencoba menutup mata. Aku berharap, aku tak ingin membuka mataku lagi esok hari dan melihat apa yang akan terjadi esok. Aku lelah…. lelah sekali rasanya…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s